Kamis, 16 Juni 2011

bank,pinjaman,riba

Untuk contoh makalah jurnal skripsi dan tesis dapat mengunjungi
www.makalahjurnalskripsitesis.blogspot.com

soal jawab islam
Bu ustadzah mo tanya, contoh soal, aku pedagang buah buahan, agar usahaku lebih maju lagi maka aku membutuhkan modal tambahan, maka aku meminta seseorang utk menambahkan modal padaku dengan syarat yg aku berikan padanya bahwa setiap bulannya aku akan memberiakan keuntungan sebesar 10% dari modal yang dia tanamakan, trus modal yang dia tanamkan aku berani jamin 100% aman, jadi jika terjadi sesuatu maka aku sangup menganti modalnya 100% utuh. nah yg jadi pertanyaan apakah keuntungan yg aku dapat dari usahaku halal atau haram, trus keuntungan yg 10% diterima org tersebut setiap bulannya halal atau haram??? mohon bantuanya dari hukum agama wok????

Aduh, dak enak dibilang ustadzah.....
Apalagi cth soalnya rumit lagi, tapi saya dak bisa menetapkan halal atau haram, cuma ada sedikit pandangan, tentunya Ilham bisa merenungi ya.............
Perbedaan antara Bunga dan Bagi Hasil
Islam mendorong praktik bagi hasil serta mengharamkan riba. Keduanya sama-sama memberi keuntungan bagi pemilik dana, namun keduanya mempunyai perbedaan yang sangat nyata. Perbedaan itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
• Bunga : Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung
Bagi Hasil : Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi
• Bunga : Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan
Bagi Hasil : Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh
• Bunga : Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi
Bagi hasil : tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.
• Bunga : Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang “booming”
Bagi hasil : Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.
• Bunga : Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh beberapa kalangan
Bagi hasil : Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil

Dalam Islam, memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjaman adalah haram. Ini dipertegas dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 275 : ...padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.... Pandangan ini juga yang mendorong maraknya perbankan syariah dimana konsep keuntungan bagi penabung didapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada bank konvensional, karena menurut sebagian pendapat (termasuk Majelis Ulama Indonesia), bunga bank termasuk ke dalam riba. bagaimana suatu akad itu dapat dikatakan riba? hal yang mencolok dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal. jadi ketika kita sudah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu, maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti. berbeda dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil bagi deposannya. dampaknya akan sangat panjang pada transaksi selanjutnya. yaitu bila akad ditetapkan di awal/persentase yang didapatkan penabung sudah diketahui, maka yang menjadi sasaran untuk menutupi jumlah bunga tersebut adalah para pengusaha yang meminjam modal dan apapun yang terjadi, kerugian pasti akan ditanggung oleh peminjam. berbeda dengan bagi hasil yang hanya memberikan nisbah tertentu pada deposannya. maka yang di bagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak. contoh nisbahnya adalah 60%:40%, maka bagian deposan 60% dari total keuntungan yang didapat oleh pihak bank.

Jenis-Jenis Riba
Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua.Yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli.Riba hutang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan riba jual-beli terbagi atas riba fadhl dan riba nasi’ah.
• Riba Qardh
o Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).
• Riba Jahiliyyah
o Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.
• Riba Fadhl
o Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.
• Riba Nasi’ah
o Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

Perbedaan Investasi dengan Membungakan Uang
Ada dua perbedaan mendasar antara investasi dengan mem-bungakan uang. Perbedaan tersebut dapat ditelaah dari definisi hingga makna masing-masing.
1. Investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung risiko karena berhadapan dengan unsur ketidakpastian. Dengan demikian, perolehan kembaliannya (return) tidak pasti dan tidak tetap.
2. Membungakan uang adalah kegiatan usaha yang kurang mengandung risiko karena perolehan kembaliannya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap.
Islam mendorong masyarakat ke arah usaha nyata dan produktif. Islam mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Sesuai dengan definisi di atas, menyimpan uang di bank Islam termasuk kategori kegiatan investasi karena perolehan kembaliannya (return) dari waktu ke waktu tidak pasti dan tidak tetap. Besar kecilnya perolehan kembali itu ter-gantung kepada hasil usaha yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.
Dengan demikian, bank Islam tidak dapat sekadar menyalurkan uang. Bank Islam harus terus berupaya meningkatkan kembalian atau return of investment sehingga lebih menarik dan lebih memberi kepercayaan bagi pemilik dana.

Perbedaan Hutang Uang dan Hutang Barang
Ada dua jenis hutang yang berbeda satu sama lainnya, yakni hutang yang terjadi karena pinjam-meminjam uang dan hutang yang terjadi karena pengadaan barang. Hutang yang terjadi karena pinjam-meminjam uang tidak boleh ada tambahan, kecuali dengan alasan yang pasti dan jelas, seperti biaya materai, biaya notaris, dan studi kelayakan. Tambahan lainnya yang sifatnya tidak pasti dan tidak jelas, seperti inflasi dan deflasi, tidak diperbolehkan. Hutang yang terjadi karena pembiayaan pengadaan barang harus jelas dalam satu kesatuan yang utuh atau disebut harga jual. Harga jual itu sendiri terdiri dari harga pokok barang plus keuntungan yang disepakati. Sekali harga jual telah disepakati, maka selamanya tidak boleh berubah naik, karena akan masuk dalam kategori riba fadl. Dalam transaksi perbankan syariah yang muncul adalah kewajiban dalam bentuk hutang pengadaan barang, bukan hutang uang.Oke, coba renungi lagi ya.... TRIMAKASIH.



Walaupun kita sama sama dengan senang hati dan iklas melakukannya, tanpa paksaan dan kesadaran ya????

Kadangkala kita merasa ikhlas karena kita membutuhkan (ikhlas terpaksa). Begitu juga dengan bunga pinjaman thdp bank kita ikhlas, tanpa paksaan dan sadar tetapi sebagaimana kita ketahui MUI menyatakan itu adalah riba. Itu pendapat ana..Bagaimana perjanjian itu di ubah misalnya 10 Persen dari modal merupakan angsuran utang tiap bulan + 10 persen keuntungan utk pemodal tiap bulan mungkin ini lebih baik.


iya juga sih, padahal usaha yang dilakukan usaha yang halal, trus pemodal hanya menunggu saja dirumah sementara kita yang kerja keras mencari keuntungan dari hasil usaha tersebut... org suka berperinsip karena saya yg bekerja keras tentu ada timbal balik yang sesuai, contoh pemodal hanya menunggu dirumah saja dan tiap bulan memperoleh keuntungan yang sudah pasti jumlahnya, sementara kita yg bekerja keras mencari keuntungan karena keuntungan kita yang belum pasti jumlahnya, kl untung banyak maka kita akan dapat untung banyak tetapi kl untung sedikit maka pemodal tetap mendapatkan keuntungan yang sama sementara kita dpt untung sedikit ....
Betul itu Am, makanya Islam membolehkan nisbah yang telah disepakati yaitu bagi hasil dari keuntungan. Jadi tidak menguntungkan satu pihak saja.
Wallahu 'alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Anda dapat memberikan pertanyaan maupun komentar di sini.